TUKAR GULA PASIR DENGAN GULA JAWA TERIGU DENGAN UBI DAN TEPUNG BERAS/SAGU

TUKAR GULA PASIR DENGAN GULA JAWA, TERIGU DENGAN UBI DAN TEPUNG BERAS/SAGU

TUKAR GULA PASIR DENGAN GULA JAWA TERIGU DENGAN UBI DAN TEPUNG BERAS/SAGU
TUKAR GULA PASIR DENGAN GULA JAWA
TERIGU DENGAN UBI DAN TEPUNG BERAS/SAGU
(Salah satu slide powerpoint Seminar “Sehat Itu Murah” yang saya kupas selama lebih 15 tahun saya roadshow seminar keliling Nusantara)
Bukan sebab banyak mengonsumsi gula maka kencing manis. Tapi orang sudah kencing manis harus membatasi asupan gula. Kencing manis soal menurunnya produksi insulin tubuh, dan atau kualitas insulin yang sudah tidak normal.
Orang Amerika mengonsumsi 120 Kg gula pasir/tahun.
Orang Jepang seperlimanya. Konsumsi gula pasir dunia semakin tahun semakin meningkat. Kita risau kalau harga gula pasir naik, dan pemerintah terus mengimpor gula. Ini gejala yang sebetulnya tidak menyehatkan.
Demikian pula halnya dengan terigu. Orang keranjingan kue, mie, dan semua jajanan berterigu. Sama dengan gula pasir, terigu tergolong menu yang kurang menyehatkan. Pilih tepung beras.
Ada bisnis besar negara bernama gula pasir. Beberapa tahun lalu pemerintah malah menggandeng 19 perusahaan asing dan perusahaan penanaman modal dalam negeri untuk berinvestasi mengembangkan pabrik gula pasir dan lahan tebu. Nilai total investasinya Rp 41,44 triliun.
Dengan investasi tersebut, akan ada tambahan 604.000 hektar lahan tebu, sehingga negara ini akan memproduksi 2,500,000 Ton gula pasir.
Seberapa jahat terigu dan gula pasir bagi kesehatan kita?
Kita aneh, menjadi galau dan risau kalau harga gula pasir naik atau langka di pasar. Sementara dari tahun ke tahun konsumsi gula pasir dunia terus meningkat. Apakah tubuh kita wajib membutuhkan gula pasir sehingga kita perlu mengejarnya setiap hari? Demikian pula apa sebegitu perlunya mengonsumsi terigu?
GULA pasir, dan jenis gula lainnya (sucrose), tergolong karbohidrat. Berbeda dengan karbohidrat berasal dari nasi, kentang, ubi, sagu, atau jagung, gula pasir memberi energi yang langsung terpakai tubuh. Maka indeks glikemik gula pasir terbilang tinggi.
Studi pengaruh buruk gula pasir sudah sejak dulu menemukan adanya ”Saccharine Diseases” (Dr.Thomas L.Cleave, 1956). Penyakit ini mencakup kasus-kasus kegemukan, pengeroposan tulang dan gigi (caries dentis), dan kerusakan sekitar gusi (paradontal diseases), selain gangguan dalam metabolisme karbohidrat.
Kasus ”Saccharine Diseases” meningkat seiring melonjaknya konsumsi gula pasir dunia. Hampir separuh dari total asupan kalori tubuh orang modern berasal dari gula pasir (rata-rata 900 kalori). Apabila asupan lemak, protein, dan menu lainnya juga sudah berlebihan, dengan doyan gula pasir maka total kalori yang masuk tubuh sangat berlebihan pula, maka kegemukan mewabah di dunia.
Yang mengonsumsi gula pasir berlebihan umumnya sekaligus kekurangan makanan berserat (fiber) akibat rasa kenyang oleh kelebihan kalori dari gula. Kalau itu terjadi, penyakit usus diverticular juga menjadi bagian dari penyakit kelompok orang yang doyan gula. Sudah pula terbukti kalau penyakit diverticular meningkatkan risiko terkena kanker usus.
Mengonsumsi banyak gula pasir dan menu kekurangan fiber juga berisiko merusak flora usus. Kita tahu flora usus bermanfaat membantu metabolisme empedu, selain memproduksi vitamin K. Bisa diramal apa yang terjadi pada usus bila gula pasir kelewat banyak dikonsumsi.
Selain memakai bahan kimiawi, proses pengolahan tebu menjadi gula pasir menghilangkan beberapa jenis mineral vital bagi tubuh (trace-elements), di antaranya chromium (yang umumnya kurang pada pengidap kencing manis); selain mangan, cobalt, copper, zinc, dan magnesium. Sejumlah penyakit bisa muncul jika kekurangan salah satu mineral vital tersebut.
Gula pasir juga mengganggu flora usus yang bermanfaat bagi kelancaran pencernaan, akibat kuman bersahabat memelihara kesehatan usus tersebut, ikut terbuang oleh hadirnya gula dalam usus.
Sel kanker suka sekali akan gula, maka untuk mencegah sel kanker bertambah subur, asupan gula perlu dibatasi, kalau bukan dihentikan sama sekali. Gula berlebihan juga menurunkan kekebalan tubuh.
Tukar gula pasir dengan gula jawa, atau madu, atau gula bebuahan. Kalau bisa stop menelan gula pasir. Gula bukan gula pasir pun sebaiknya tidak berlebihan, terlebih bagi yang diabetik.
Terigu juga demikian. Kalau tidak bisa stop terigu, sekurangnya membatasi. Gandum sebagai bahan baku terigu tentu menyehatkan karena berasal dari jelai yang alami. Tapi proses gandum menjadi terigu yang jadi masalah, antara lain memasukkan kimiawi benzoil peroksida sebagai pemutih.
Zat tambahan ini tidak menyehatkan, dan dilarang. Hal lain terigu mengandung banyak gluten, protein dalam terigu yang sukar dan makan waktu lama untuk dicerna, melekat pada dinding usus, dan berpotensi mencetuskan kanker. Selain itu banyak orang peka dan rentan terhadap peptida gluten. Pengidap penyakit otoimun di antaranya.
Kita tahu gandum sendiri mengandung tiga unsur yakni bran atau kulitnya, lembaganya, dan endosperm atau tepungnya sendiri. Proses gandum menjadi terigu menghilangkan bran dan lembaga gandum yang menyehatkan seperti halnya terlepasnya ari beras selama proses pengggilingan padi. Maka yang menyisa hanya tepung yang kehilangan bahan serat (fiber).
Gandum sendiri sumber makanan berserat dari bran, namun kehilangan serat setelah menjadi terigu. Maka orang sekarang memilih roti gandum, bukan roti putih.
Selain kehilangan serat selama proses gandum menjadi terigu, sejumlah zat gizi hilang dalam proses itu. Roti putih, mi, dan semua penganan dari terigu selain miskin serat juga miskin nutrisi berasal dari gandum. Maka orang memilih roti gandum dan semua makanan sereal termasuk gandum. Pilih ubi jalar, tepung beras, atau tepung sagu untuk menggantikan terigu.
Salam sehat,
Dr HANDRAWAN NADESUL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *